Kayaknya gue akhir-akhir ini otak gue lagi aktif-aktifnya memproduksi tulisan. Yaah, nggak apa, nyicil dulu dikit-dikit, siapa tau nanti jadi rutin lagi kayak dulu. Jadi, mohon dimaafkan jika topik tulisannya itu-itu aja, sedang menimbun minat kembali untuk menulis.

Jadi, di tiga bulan terakhir sebelum akhir semester, mendadak gue mental breakdown. Awalnya, gue kira ini cuma bad mood yang berawal dari bosan, tapi setelah sebulan nggak ada perubahan signifikan, Kai langsung menyatakan kalau gue butuh ke psikolog atau butuh bantuan profesional lagi. Akhirnya, Kai pergi ke web kampus dan mencari nomor telepon untuk bimbingan konseling.

Setelah Kai berhasil membuat appointment, gue ikut nimbrung buat menelusuri layanan-layanan yang diberikan kampus gue untuk mahasiswanya. Sebenarnya, gue menganggap kampus gue itu kecil dan nggak terkenal. Kalau kata bokap, kampus gue itu kampus kelas tiga, bukan yang favorit. Tapi, setelah gue melihat layanannya, kok jauh lebih bagus dari kampus nomor satunya Indonesia, ya?

Well, kalau mau berkilah, bisa aja gue bilang “jelas beda, satu negara maju, satu negara berkembang“, tapi masalahnya, yang gue sorot adalah kampus-kampus ternama yang dapat perhatian dunia pendidikan internasional. Kalau udah dapet pengakuan internasional, harusnya layanan untuk mahasiswanya juga selevel internasional. Tapi nyatanya, layanan mahasiswanya sama bobroknya dengan kampus kecil di Indonesia.

.

Di kampus gue, ada sebuah layanan konseling yang bisa dipakai mahasiswanya sebagai “tempat curhat”. Konselornya adalah psikolog yang memiliki pengalaman professional di luar kampus — jadi, emang seserius itu layanannya. Di layanan konseling ini, mahasiswa diberi jatah 10-13 sesi konseling gratis, setelah itu baru mereka dirujuk ke psikolog atau psikiater di luar kampus. Satu sesinya berisi 45 menit sampai satu jam; jadi, cukup untuk yang memiliki masalah akademis ataupun mental breakdown kayak gue.

Sepengalaman gue, layanan konseling yang mereka berikan sama kualitasnya kayak psikolog professional yang punya kantornya sendiri atau yang kerja di rumah sakit. Pembimbing konseling gue juga terlihat lebih fokus ke masalah gue dan mencoba memberi solusi yang profesional (layaknya psikolog kebanyakan). Enaknya lagi, layanan ini bisa dinikmati di setiap kampus (kampus gue ada cabang di beberapa suburb); jadi, bukan kita pergi ke kantor mereka atau ke rumah sakit; mereka punya kantor sendiri di gedung perpustakaan untuk itu.

Untuk fasilitas lainnya, mereka punya 24 hours suicide hotline — tapi gue nggak tau ini untuk umum atau khusus untuk mahasiswa kampus gue aja. Selain itu, mereka punya layanan peminjaman Guide Hounds untuk mereka yang memiliki disabilitas fisik; jadi, Guide Hounds adalah anjing yang sudah dilatih khusus untuk menuntun orang tunarungu dan tunanetra. Mereka juga punya jasa baby sitting untuk mahasiswa yang punya anak, ada lagi kelas (entah certificate atau bachelor) khusus mereka yang tunarungu dan tunawicara.

Setelah melihat fasilitas-fasilitasnya, gue langsung amazed, karena kampus sekecil ini pelayanannya lebih bagus dari kampus-kampus bagus di Indonesia — dan, entah kampus lain sekelas UniMelb atau Monash di sini juga punya fasilitas serupa atau nggak. Gue melihat fasilitas sebanyak itu untuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus dan (kayaknya) memang kampus gue fokus ke mahasiswa yang seperti itu. Kenapa? Karena setelah gue perhatikan di sekitaran gue, mahasiswa yang ada di sana pasti ada aja yang mengidap penyakit mental; di lain sisi, gue selalu melewati kelas yang sunyi karena isinya orang-orang yang ngomong pakai bahasa isyarat.

Di suatu hari, gue sempat menanyakan soal kelas yang ngomongnya pakai bahasa isyarat itu ke dosen gue, dan katanya, itu memang program yang baru ada tahun ini (atau tahun lalu? Lupa). Katanya, kelas itu masih masa uji coba dan akan dijadikan bagian dari prodi kampus.

Menurut gue, it’s good that my campus cares for students like that; dan gue sendiri juga merasakan gimana mereka beneran peduli. Dalam masa tiga bulan itu, gue jadi sering nggak masuk karena gue emang nggak ada keinginan buat keluar kamar dan ketemu orang. Dosen gue sampai nelponin gue dan memberikan gue suicide hotline kalau gue membutuhkan. Mereka juga nyuruh gue untuk ikut konseling kampus yang bikin appointmentnya tinggal telpon sambil nyebutin student ID.

Wow.

Segitunya kah mereka sama penyakit mental dan disabilitas? Kalaupun misalnya ini cuma formalitas, kepedulian yang gue terima itu berasa. Dosen-dosen di sana selow dan nggak suka memaksa, mereka sebisa mungkin mendekatkan diri ke mahasiswa (yaa, emang anak kelasannya dikit sih, makanya bisa kenal satu-satu). Salah satu dosen gue, namanya Tim, adalah dosen yang gue anggap paling deket dengan gue; dia pernah main ke Indonesia dan tertarik dengan budayanya (awalan kenapa kami bisa dekat); Gue juga kalau curhat apa-apa sama dia dulu, baru ke kaprodi; dia juga yang memberikan gue suicide hotline dan rajin memantau perkembangan gue.

That’s nice, really. Di Indonesia, boro-boro gue disuruh bimbingan konseling — yang ada, gue dimaki-maki.

.

Jadi, yaa, emang awareness di negara maju lebih bagus daripada di negara berkembang. Kesehatan mental di sini sama pentingnya kayak kesehatan fisik (Anak kecil aja nggak boleh dibentak; bisa berurusan sama hukum kalau dilaporin). Tapi, setelah gue tanya Keti, di kampusnya pun nggak ada fasilitas kayak gitu — dia cuma dikasih rujukan ke psikiater atau psikolog professional di luar kampus, kalau nggak salah. Jadi, gue rasa, nggak semua negara maju aware sama kesehatan mental gini.

.

Well, ya segitu aja curcolannya.

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s