Akhir-akhir ini aku banyak melihat orang yang di pergelangan tangannya ada bekas sayatan berulang. Entah itu pas aku lagi di 7Eleven, entah di kampus waktu ngantri di lift, aku melihat mereka yang di pergelangan tangannya ada bekas sayatan. Lalu aku berpikir, apa yang sudah mereka lalui sampai-sampai menyayat pergelangan tangan berkali-kali seperti itu? Tapi kata Kai, kalau mereka mengenakan lengan pendek, mereka tidak seperti Kai. Jadi aku nggak perlu khawatir, katanya.

Ada yang selalu mengganggu pikiranku pagi ini. Yaitu kenyataan bahwa society memperlakukan orang-orang yang menyakiti dirinya sendiri sebagai manusia yang cari perhatian. Dan aku sudah mendengarkan hal ini berulang kali sampai aku muak. Bukan cuma statement ‘cari perhatian’, tapi sebagian dari mereka berniat mengatakan, “Ya udah, bunuh diri aja sana” ke mereka yang menyakiti dirinya sendiri.

Hal ini nggak akan berpengaruh kalau penderitanya seperti Kai. Kalau Kai dibilangin kayak gitu, he is, for sure, going to kill himself. Kenapa? Karena sebagian orang menyakiti dirinya bukan karena untuk cari perhatian. Tapi karena mereka ingin mengalihkan rasa sakit di dada yang jauh lebih sakit dari kematian. Karena itu, kurasa, mereka berani melakukannya.

Mungkin sebagian dari mereka memang berniat mencari perhatian. Tapi, apa itu salah? Kalau memang kenyataannya mereka kurang diperhatikan, apa salah mereka meminta untuk diperhatikan? “Tapi caranya nggak usah dengan menyakiti diri sendiri“. Kalau dia nggak menyakiti diri sendiri, apa kalian mau memperhatikannya? Apa kalian mau memberikan perhatian saat dia di dalam keadaan yang baik-baik saja? Aku menyebut keadaan mereka sebagai ‘kehabisan cara’.

Tapi, yaah, ada juga sebagian orang yang menyakiti dirinya sendiri bukan karena butuh perhatian atau mengalihkan rasa sakit. Ada juga yang emang mendramatisir hidupnya dengan menyayat-nyayat atau menyakiti dirinya sendiri. Beberapa contoh nyata yang kulihat adalah orang-orang yang sering kutemui menyayat pergelangan tangannya setelah putus cinta. Selebihnya, memang karena mereka butuh perhatian.

Untuk kasus yang terakhir, aku merasa itu sebagai sebuah penghinaan terhadap mereka yang memang melakukannya karena hal yang berat. Gimana ya, karena dengan adanya mereka yang mendramatisir hal kecil seperti itu, orang-orang yang datang dengan problem yang lebih berat juga ikut jelek. Yang seharusnya mereka benar-benar mendapat perhatian, akhirnya mereka malah dituduh mencari perhatian karena terlalu cengeng.

Overall, kita nggak boleh mengabaikan orang-orang yang menyakiti dirinya sendiri. Apalagi yang berusaha menutupi luka-lukanya. Kenapa? Karena kata Kai, dia menutupi lukanya karena nggak mau orang lain tau. Dalam artian, orang yang suka atau terbiasa memendam perasaan dan masalahnya sendirian. Ini jauh lebih bahaya dari orang yang sengaja menunjukkannya. Kalau disembunyikan, orang lain nggak tau.. nggak ada yang bisa nyelametin.

.

Aku pernah nanya sama Kai tentang apa yang dia rasain waktu dia memutuskan buat menyakiti diri sendiri. Salah satu alasannya adalah untuk mengalihkan rasa sakit yang dia rasakan di dada. Rasa sesaknya nggak nahan, katanya. Dan waktu dia memutuskan buat menyayat pergelangan tangannya, dia nggak main-main. Sekali sayat, dalem, darahnya banyak keluar. Nggak jarang dia keluar-masuk rumah sakit, dulu.

Alasan lain yang dia sebutkan adalah putus asa, sedih yang mendalam, dan memang pingin mengakhiri hidup. Nangis aja nggak cukup, katanya. Air mata udah keburu kering kalau nangisnya itu dimaksudkan buat melampiaskan keputusasaan dan rasa sedih. Air mata nggak cukup, nggak sebanding. Jadi dia lari ke pisau.

.

Buat yang punya teman/keluarga/kenalan yang memiliki masalah kayak Kai, aku mau ngasih tips gimana cara menghandle mereka. Kalo buat yang nyayat karena putus cinta, maaf, yang itu aku nggak bisa bantu. <-Benci orang kayak gitu.

1. Tawarkan diri

Awalnya mungkin mereka bakal menolak buat cerita atau curhat ke kita. Nggak masalah. Jangan maksa. Yang penting kita harus selalu menawarkan diri ke dia dan tunjukkan kalau dia cerita ke kalian, dia akan merasa nyaman. Buat tahap satu ini emang bener-bener butuh kesabaran ekstra dan perjuangan keras. Di tahap ini, mungkin orang itu lagi menguji kita, seberapa jauh kita mau berusaha demi dia.

Emang kedengerannya nyebelin. Tapi, buat orang-orang kayak mereka, ‘kepercayaan’ adalah sesuatu yang nggak bisa diberikan begitu saja. Tingkat insecurity mereka itu sangat sangat tinggi. Jadi, wajar kita harus manjat tembok mereka yang tinggi-tinggi dulu sebelum bisa masuk.

2. Siapkan kuping dan kunci mulut

Kalau dia udah mulai mendekati kita dan mulai curhat, selalu sediakan kuping lebar, bahu tahan air, dan mulut yang terkunci. Ketika mereka curhat, mereka cuma mau didengar. Jadi sebaiknya, kunci mulut kita. Biarkan dia cerita sampai selesai, sampai tuntas, sampai puas. Dan kita tetap harus kunci mulut setelah dia kelar cerita. Karena yang dia butuhin bukan advice dan tetekbengeknya, tapi cuma kuping yang mau mendengar segala keluhannya.

Kunci mulut ini juga berlaku ketika dia bilang, “jangan bilang siapa-siapa ya”. Dan kalian harus komit sama ini. Kenapa? Karena kayak yang udah kubilang tadi, tingkat insecurity mereka sangat sangat tinggi. Ketika kalian melanggar janji, dia nggak akan bicara sama kalian lagi. Dia bakal membangun tembok baru yang jauh lebih tinggi sampai-sampai nggak ada yang bisa masuk. Kepercayaan adalah hal yang sangat sakral bagi mereka.

3. Jangan larang dia untuk nangis

Banyak dari kita yang sebenernya takut ngeliat orang nangis atau nggak kuat liat orang nangis. Sehingga kita memilih untuk menahan mereka nangis karena menurut kita, menahan tangisannya dan membuatnya tertawa adalah yang terbaik. Memang itu yang terbaik kalau dilakukan pada anak kecil yang masalahnya sebatas ‘permen jatoh’. Kalau buat mereka yang punya masalah berat, justru mereka harus menangis. Tawarkan mereka untuk menangis. Jangan lupa siapkan bahu kalian untuk ditangisi. :3

4. Jangan pernah bosan melayaninya

Jujur, kalau kita memang komit ingin menyelamatkan dia, kita harus menyediakan waktu kita 24/7. Kalau aku pribadi, there’s no ‘me’. Nggak ada lagi yang namanya ‘aku’, yang ada cuma ‘dia’. Kita harus rela dibangunin tengah malem demi dengerin curhatannya dia. Kita harus siapin jantung yang kuat kalau-kalau denger dia bilang, ‘pingin bunuh diri’ atau ‘aku udah nyayat pergelangan tangan’.

Memang ini pengorbanan yang sangat berat. Karena kita berurusan sama nyawa.

Jangan pernah bosen, jangan pernah komentar, jangan pernah ngeluh. Sekali aja ada yang dilanggar, kondisi kalian nggak akan sama lagi.

5. Jangan buat janji yang nggak bisa kalian tepati

Jangan pernah menjanjikan sesuatu yang nggak bisa kalian tepati. Atau janji yang kalian sendiri ragu untuk menepatinya. Lebih baik kalian jujur dengan bilang, “Aku nggak tau bisa menepatinya apa nggak. Aku nggak bisa menjanjikannya padamu. Tapi aku akan berusaha melakukannya“. Itu jauh lebih baik karena kita nggak memberikan harapan palsu ke dia.

6. Selalu tenang

Kalau kalian berhadapan sama dia yang mirip Kai, kalian harus siap mendengarkan ucapan-ucapan ekstrim dari dia. Ucapan yang menyakitkan hati dan memacu jantung. Kita harus tetap tenang menghadapi dia. Apalagi keadaan dimana dia udah megang pisau dan berniat buat bunuh diri. Jangan panik. Karena kalau kita panik, kacau sendiri, dia juga ikutan kacau dan situasi jadi tak terkendali.

Kalau keadaannya dia udah megang pisau, minta pisaunya pelan-pelan, dengan tenang. Setelah pisaunya berpindah-tangan, peluk dia supaya dia tenang. Kalau aku pribadi, sampai bersenandung biar tenangnya lebih cepet.

.

Yak, cuma segitu tips yang aku tau. Itu semua dari pengalaman pribadi. Kalau yang lebih dari itu, aku nggak tau. Tapi coba aja pakai caraku. Kurasa caraku ini udah cara yang paling standard. Hahaha..

Sebenarnya yang paling ampuh melakukan ini adalah perempuan. Karena perempuan itu lembut dan penyabar dan juga memiliki empati yang lebih besar dibanding cowok. Tapi untuk kasus Kai, kebanyakan cewek yang ada di dalam hidupnya dulu nggak berguna. Bukannya bikin selesai masalah, malah bikin ribet.

Semoga nggak ada lagi yang menyakiti dirinya sendiri dengan alasan apapun. Amiiiinnn~

Ciao!

3 thoughts on “Menyakiti Diri Sendiri

  1. Bagus banget Bang, pemikirannya! Ane mau tambahin, kalo orang yang kayak Kai itu enggak pengen dikasihani, karena kalo dikasihani mereka makin menutup diri.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s